{"id":62145,"date":"2023-02-20T21:45:47","date_gmt":"2023-02-20T14:45:47","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=62145"},"modified":"2023-02-20T22:25:44","modified_gmt":"2023-02-20T15:25:44","slug":"menguak-misteri-lembah-mbencirang-mojokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2023\/02\/20\/menguak-misteri-lembah-mbencirang-mojokerto\/","title":{"rendered":"Menguak Misteri Lembah Mbencirang Mojokerto"},"content":{"rendered":"<h5><a href=\"http:\/\/Majalahglobal.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Majalahglobal.com<\/a>, <a href=\"http:\/\/Mojokertokab.go.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mojokerto<\/a> &#8211; Menguak Misteri Lembah Mbencirang, Desa Kebontunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto menjadi sebuah perbincangan menarik akhir-akhir ini.<\/h5>\n<p>Dalam acara menguak misteri Lembah Mbencirang, Ki Ageng Cempoko Putih mengungkapkan, di Lembah Mbencirang ini ada 3 penghuni ghoib yang sangat berpengaruh.<\/p>\n<p>&#8220;Yang pertama namanya Mbah Klenteng yang mempunyai nama asli Raden Aryo Widodo. Mbah Klenteng mempunyai pusaka kilat petir bumi. Wujudnya seperti Warok. Tidak memakai baju, memakai celana hitam, memakai sabuk putih, berkumis dan tubuhnya kekar,&#8221; ungkap Ki Ageng Cempoko Putih yang akrab disapa Gus Bayu ini, Senin (20\/2\/2023) di Lembah Mbencirang.<\/p>\n<p>&#8220;Mbah Klenteng juga mempunyai cincin yang bernama mustika cahyowanu. Nanti Mbah Klenteng akan saya bangunkan biar bisa membantu wisata Lembah Mbencirang lebih ramai lagi pengunjungnya,&#8221; tambah Gus Bayu.<\/p>\n<p>Masih kata Gus Bayu, keberadaan makhluk ghaib kalau digabungkan bisa untuk menjaga bencana dan kearifan disini.<\/p>\n<p>&#8220;Hal itu bisa kita wujudkan dengan menyambungkan energi positif agar tidak ada serangan ghaib negatif,&#8221; jelas Gus Bayu.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dikatakannya, selain mempunyai Mbah Klenteng, Lembah Mbencirang juga mempunyai Sendang Towo Putri Watianah.<\/p>\n<p>&#8220;Pakaiannya putih dan menyelipkan bunga kamboja di telinganya. Sosoknya mirip dengan orang Hindu dan berparas sangat cantik. Sendang Towo Putri Watianah mempunyai sutra banyu dan mempunyai cincin yang bernama batu merah delima,&#8221; terang Gus Bayu.<\/p>\n<p>Simak selengkapnya di halaman berikutnya.<br \/>\n<!--nextpage--><br \/>\nMenurut mata batin Gus Bayu, selain Mbah Klenteng dan Sendang Towo Putri Watianah, Lembah Mbencirang juga mempunyai Eyang Brojo Taraman yang muncul sebelum Kerajaan Majapahit.<\/p>\n<p>&#8220;Eyang Brojo Taraman mempunyai Pusaka Jungkul Seketi. Dengan pusaka tersebut, semua makhluk halus pasti membantu Eyang Brojo Taraman. Eyang Brojo Taraman mempunyai fisik tinggi besar dan merupakan sebangsa jin,&#8221; ujar Gus Bayu.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Desa Kebontunggul, Siandi, S.H., M.M. berharap dengan adanya kegiatan menguak misteri Lembah Mbencirang, wisatawan akan semakin banyak yang berkunjung kesini.<\/p>\n<p>&#8220;Rencananya akan saya bangun rumah kerajaan Majapahit, villa dan hotel disini. Semoga dalam waktu dekat bisa tercapai,&#8221; harap Kepala Desa Kebontunggul.<\/p>\n<p>Ahmad Mukhibudin Aminoto S.IP menambahkan, ia berharap semua masyarakat sekitar juga ikut andar beni menjaga lingkungan agar bisa terawat dengan baik.<\/p>\n<p>&#8220;Harapannya anak cucu bisa merasakan kelestarian alam di Bumi Mojokerto,&#8221; terang Ahmad Mukhibudin Aminoto S.IP yang akrab disapa Ki Rekso Aminoto dan merupakan Caleg DPRD Kabupaten Mojokerto Dapil III ini. (Jay)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Majalahglobal.com, Mojokerto &#8211; Menguak Misteri Lembah Mbencirang, Desa Kebontunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto menjadi sebuah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":62146,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[55,9745],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-62145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-mojokerto","category-headline"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/62145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=62145"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/62145\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":62158,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/62145\/revisions\/62158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/62146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=62145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=62145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=62145"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=62145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}