{"id":129901,"date":"2026-09-08T07:23:15","date_gmt":"2026-09-08T00:23:15","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=129901"},"modified":"2026-09-08T07:23:15","modified_gmt":"2026-09-08T00:23:15","slug":"bekal-pulang-dari-lapas-ning-ita-latih-60-warga-binaan-bikin-minuman-kafe-keripik-biar-bisa-buka-usaha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2026\/09\/08\/bekal-pulang-dari-lapas-ning-ita-latih-60-warga-binaan-bikin-minuman-kafe-keripik-biar-bisa-buka-usaha\/","title":{"rendered":"&#8220;Bekal Pulang&#8221; dari Lapas: Ning Ita Latih 60 Warga Binaan Bikin Minuman Kafe &#038; Keripik Biar Bisa Buka Usaha"},"content":{"rendered":"<p>KOTA MOJOKERTO \u2013 Tembok lapas bukan akhir dari segalanya. Pemerintah Kota Mojokerto membekali warga binaan dengan keterampilan nyata agar bisa mandiri secara ekonomi saat kembali ke masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Senin, 7 September 2026, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari bersama Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto Arifin Akhmad meninjau langsung pelatihan di dalam Lapas Kelas IIB Mojokerto. Sebanyak 60 warga binaan asal Kota Mojokerto mengikuti pembinaan intensif selama dua hari, 7 hingga 8 September.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Materi yang diajarkan bukan sembarangan. Peserta dilatih membuat minuman kekinian ala kafe dengan bahan dasar kecap, serta aneka keripik. Dua produk yang sedang naik daun di dunia usaha kuliner.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Untuk tahun 2026 ini sasarannya kami arahkan ke warga binaan di Lapas Mojokerto. Harapannya, ketika masa pembinaan selesai dan mereka kembali ke rumah, sudah punya keahlian yang bisa langsung diputar jadi usaha,&#8221; jelas Ning Ita, sapaan akrab wali kota.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>*Kenapa Pilih Kuliner? Karena Peluangnya Masih Luas*<\/p>\n<p>Ning Ita sengaja menunjuk sektor makanan dan minuman sebagai materi pelatihan. Alasannya sederhana: pasarnya belum jenuh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Setiap tahun, wajah Kota Mojokerto dipenuhi wajah baru tempat makan. Mulai dari restoran, kedai kopi, warung tenda, hingga pedagang kaki lima. Dinamika itu membuat sektor perdagangan dan kuliner berkontribusi lebih dari 20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Mojokerto.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Setiap tahun kita lihat tempat kuliner baru terus bermunculan. Baik itu resto, kafe, warung, sampai PKL. Artinya, ruang untuk berusaha di bidang ini masih sangat terbuka lebar. Termasuk bagi para mantan warga binaan,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia berharap ilmu yang didapat selama 2 hari ini tidak berhenti di praktik. Melainkan bisa menjadi pijakan awal untuk merintis wirausaha kecil-kecilan begitu mereka bersosialisasi kembali di tengah warga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>*Apresiasi dari Lapas: Kehadiran Wali Kota Bentuk Perhatian Nyata*<\/p>\n<p>Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Arifin Akhmad, menyambut baik program kolaborasi ini. Ia menilai kehadiran orang nomor satu di Pemkot langsung ke dalam lapas adalah sinyal kuat bahwa pemerintah daerah tidak melupakan warga binaannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Kami dari jajaran Lapas Mojokerto mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada Ibu Wali Kota. Beliau berkenan hadir dan menyapa warga binaan yang sedang menjalani pembinaan, yang sebagian besar juga merupakan warga Kota Mojokerto,&#8221; ungkap Arifin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia menambahkan, pelatihan keterampilan seperti ini penting agar warga binaan memiliki pegangan ketika masa pidana berakhir.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Mudah-mudahan dengan bekal ini mereka bisa lebih siap mandiri secara ekonomi setelah bebas dari Lapas Mojokerto,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dengan skema ini, Pemkot Mojokerto tidak hanya fokus pada pembinaan mental, tetapi juga membekali dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Harapannya, angka residivis bisa ditekan dan tercipta ex-narapidana yang produktif. (Jay)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTA MOJOKERTO \u2013 Tembok lapas bukan akhir dari segalanya. Pemerintah Kota Mojokerto membekali warga binaan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":129902,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[55,11334,9745],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-129901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-mojokerto","category-berita-provinsi-jawa-timur","category-headline"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/129901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=129901"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/129901\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":129904,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/129901\/revisions\/129904"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/129902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=129901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=129901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=129901"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=129901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}