{"id":128550,"date":"2026-07-28T08:56:04","date_gmt":"2026-07-28T01:56:04","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=128550"},"modified":"2026-07-28T08:56:04","modified_gmt":"2026-07-28T01:56:04","slug":"pesisir-jikotamu-sampai-jojame-diselimuti-air-hijau-warga-khawatir-ekosistem-rusak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2026\/07\/28\/pesisir-jikotamu-sampai-jojame-diselimuti-air-hijau-warga-khawatir-ekosistem-rusak\/","title":{"rendered":"Pesisir Jikotamu sampai Jojame Diselimuti Air Hijau, Warga Khawatir Ekosistem Rusak"},"content":{"rendered":"<p>HALMAHERA SELATAN \u2014 Pagi itu, Senin 27 Juli 2026, suasana di dermaga Pelabuhan Jojame, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, tidak seperti biasanya. Para penumpang kapal rute Jikotamu\u2013Kupal, Kecamatan Bacan, dikejutkan dengan warna air laut yang tidak wajar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sepanjang mata memandang dari pesisir Jikotamu hingga bibir dermaga Jojame, air laut tampak berubah menjadi hijau pekat. Bukan hijau lumut biasa, melainkan warna pekat yang menggumpal dan meninggalkan jejak di sisi lambung kapal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Informasi pertama kali menyebar melalui pesan WhatsApp dari beberapa penumpang pada dini hari. Dalam pesan itu, mereka mengaku melihat cairan aneh mengalir dan bercampur dengan air laut sejak kapal masih berada di perairan Jikotamu. Ketika kapal merapat ke Pelabuhan Jojame, warna hijau itu masih terlihat jelas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Sudah dari Jikotamu warnanya beda. Pas sampai Jojame kok malah makin pekat,&#8221; tulis salah satu penumpang dalam pesan yang beredar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kejadian ini langsung memicu kekhawatiran warga. Di grup-grup warga Obi, perbincangan soal dugaan pencemaran pun ramai. Banyak yang menduga kuat air laut yang berubah warna itu berasal dari pembuangan limbah kimia oleh salah satu kapal penumpang yang melintas di jalur tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Namun hingga saat ini, belum ada kepastian resmi mengenai penyebab perubahan warna air laut tersebut. Apakah benar akibat limbah, atau ada fenomena alam lain yang memicu hal serupa, masih perlu ditelusuri lebih lanjut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Warga khawatir jika ini benar pencemaran, maka dampaknya bisa meluas. Laut Obi selama ini menjadi sumber penghidupan utama nelayan. Perubahan warna air laut dikhawatirkan akan merusak ekosistem, mengganggu biota laut, hingga mengancam tangkapan nelayan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Selatan, Samsu Abubakar, saat dikonfirmasi mengaku baru mengetahui kabar tersebut. Ia mengatakan pihaknya akan segera melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Kami baru tahu soal ini. Nanti kita kroscek dulu ke lapangan atau ke warga untuk memastikan kebenarannya,&#8221; ujar Samsu singkat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelabuhan maupun perusahaan pelayaran terkait dugaan pembuangan limbah tersebut. Warga pun berharap ada penjelasan cepat agar tidak menimbulkan spekulasi yang lebih luas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perairan Obi merupakan salah satu jalur pelayaran penting di Halmahera Selatan. Jika dugaan pencemaran ini terbukti, maka akan menjadi catatan serius bagi pengawasan lingkungan dan keselamatan pelayaran di wilayah tersebut. (Kandi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HALMAHERA SELATAN \u2014 Pagi itu, Senin 27 Juli 2026, suasana di dermaga Pelabuhan Jojame, Kecamatan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":128551,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7481,9745],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-128550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-halmahera-selatan","category-headline"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/128550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=128550"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/128550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":128552,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/128550\/revisions\/128552"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/128551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=128550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=128550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=128550"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=128550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}