{"id":127642,"date":"2026-06-15T17:44:48","date_gmt":"2026-06-15T10:44:48","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=127642"},"modified":"2026-06-15T17:44:48","modified_gmt":"2026-06-15T10:44:48","slug":"panen-sawi-warga-binaan-lapas-kelas-iib-kotaagung-wujudkan-pembinaan-produktif-dan-kemandirian-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2026\/06\/15\/panen-sawi-warga-binaan-lapas-kelas-iib-kotaagung-wujudkan-pembinaan-produktif-dan-kemandirian-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Panen Sawi Warga Binaan, Lapas Kelas IIB KotaAgung Wujudkan Pembinaan Produktif dan Kemandirian Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Panen Sawi Warga Binaan, Lapas Kelas IIB KotaAgung Wujudkan Pembinaan Produktif dan Kemandirian Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<p><strong>KOTAAGUNG, majalahglobal.com \u2013<\/strong> Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kotaagung kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan melalui program kemandirian. Pada Senin, 15 Juni 2026, Lapas Kotaagung melaksanakan panen sawi yang dibudidayakan langsung oleh warga binaan di lahan pembinaan yang berada di lingkungan lapas.<\/p>\n<p>Kegiatan panen tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan memberikan keterampilan praktis sekaligus membentuk karakter positif bagi warga binaan selama menjalani masa pidana.<\/p>\n<p>Kepala Lapas Kelas IIB Kotaagung, Ruh Harijadi, mengatakan bahwa proses budidaya sawi dilakukan secara menyeluruh oleh warga binaan, mulai dari pengolahan lahan, penyemaian benih, perawatan tanaman hingga masa panen. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan produk pertanian yang bermanfaat, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan kemandirian.<\/p>\n<p>&#8220;Program pertanian ini merupakan salah satu bentuk pembinaan yang kami laksanakan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Melalui proses menanam hingga memanen, mereka belajar bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen,&#8221; ujar Ruh Harijadi.<\/p>\n<p>Setelah dipanen, sawi hasil budidaya warga binaan tersebut diserahkan kepada dapur Lapas untuk diolah menjadi menu makanan bagi warga binaan. Langkah ini menjadi wujud pemanfaatan hasil pembinaan yang memberikan manfaat nyata sekaligus mendukung kebutuhan pangan di lingkungan lapas.<\/p>\n<p>Ruh Harijadi menambahkan, keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa program pembinaan yang dijalankan tidak hanya berfokus pada aspek pembinaan kepribadian, tetapi juga penguatan keterampilan dan produktivitas warga binaan agar siap beradaptasi serta berkontribusi positif di tengah masyarakat setelah bebas nanti.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan tersebut, Lapas Kotaagung berharap dapat terus menumbuhkan semangat perubahan bagi warga binaan. Di balik tembok pemasyarakatan, panen sawi tidak sekadar menghasilkan sayuran segar, melainkan juga menjadi simbol tumbuhnya harapan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.<\/p>\n<p>&#8220;Panen sawi ini bukan hanya tentang hasil pertanian yang berhasil kami petik hari ini, tetapi juga tentang proses pembelajaran yang dijalani warga binaan. Setiap benih yang ditanam mengajarkan nilai disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan kesabaran. Melalui program pembinaan kemandirian ini, kami ingin memastikan bahwa warga binaan memiliki keterampilan, pengalaman, dan kepercayaan diri untuk memulai kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat. Kami percaya, pembinaan yang produktif akan melahirkan pribadi yang lebih siap, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.&#8221;pungkas Ruh Harijadi, Kepala Lapas Kelas IIB Kotaagung.<br \/>\n<strong>Oleh: Andi Raya<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Panen Sawi Warga Binaan, Lapas Kelas IIB KotaAgung Wujudkan Pembinaan Produktif dan Kemandirian Berkelanjutan KOTAAGUNG,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":127643,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11403],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-127642","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-38-provinsi-di-indonesia"],"amp_enabled":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/127642","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=127642"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/127642\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":127644,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/127642\/revisions\/127644"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/127643"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=127642"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=127642"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=127642"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=127642"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}