{"id":123368,"date":"2025-12-24T18:48:23","date_gmt":"2025-12-24T11:48:23","guid":{"rendered":"https:\/\/majalahglobal.com\/?p=123368"},"modified":"2025-12-24T18:48:23","modified_gmt":"2025-12-24T11:48:23","slug":"sungai-di-atas-sungai-di-jatiroto-lumajang-rekayasa-irigasi-yang-kerap-disalahpahami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/majalahglobal.com\/2025\/12\/24\/sungai-di-atas-sungai-di-jatiroto-lumajang-rekayasa-irigasi-yang-kerap-disalahpahami\/","title":{"rendered":"\u201cSungai di Atas Sungai\u201d di Jatiroto Lumajang, Rekayasa Irigasi yang Kerap Disalahpahami"},"content":{"rendered":"<p>Lumajang \u2014 Fenomena yang dikenal publik sebagai \u201csungai di atas sungai\u201d di wilayah Jatiroto, Kabupaten Lumajang, kembali menarik perhatian warganet.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Visual dua aliran air yang tampak bertumpuk secara vertikal kerap dianggap sebagai kejadian alam langka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Namun, penjelasan teknis menunjukkan bahwa fenomena tersebut merupakan bangunan irigasi buatan, bukan dua sungai alami yang saling bertumpukan.<\/p>\n<p>Aliran air yang berada di bagian atas merupakan saluran irigasi yang dibangun melintas di atas sungai alami. Struktur ini dikenal sebagai aqueduct atau jembatan air\u2014bangunan teknik sipil yang berfungsi menyalurkan air irigasi tanpa bercampur dengan aliran sungai di bawahnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bukan Fenomena Alam<\/p>\n<p>Secara hidrologis, dua sungai alami yang mengalir pada satu titik dengan perbedaan ketinggian hampir tidak mungkin terjadi di permukaan terbuka. \u201cJika terlihat aliran air di atas sungai lain, hampir pasti itu adalah saluran buatan,\u201d demikian dijelaskan dalam literatur teknik irigasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada kasus Jatiroto, air irigasi dialirkan melalui saluran yang diperkeras dengan beton atau pasangan batu. Sementara itu, sungai alami tetap mengalir di bawah struktur tersebut mengikuti kontur alam. Kedua aliran dipisahkan secara fisik sehingga tidak bercampur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teknologi Lama yang Masih Digunakan<\/p>\n<p>Aqueduct bukan teknologi baru. Sistem ini telah digunakan sejak masa Romawi Kuno dan terus berkembang hingga era modern. Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, banyak saluran irigasi serupa dibangun sejak masa kolonial untuk mendukung pertanian tebu dan padi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di Jatiroto, keberadaan aqueduct menjadi bagian penting dari sistem pengairan lahan pertanian. Dengan struktur ini, distribusi air tetap berjalan optimal meski harus melintasi sungai alami.<\/p>\n<p>Edukasi Publik dan Literasi Sains<\/p>\n<p>Fenomena visual seperti ini kerap menimbulkan salah tafsir di media sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Beberapa unggahan menyebutnya sebagai \u201ckeajaiban alam\u201d atau \u201cfenomena langka\u201d. Padahal, pemahaman yang tepat justru menunjukkan kecanggihan rekayasa manusia dalam mengelola sumber daya air.<\/p>\n<p>Pengamat pendidikan menilai, struktur irigasi seperti di Jatiroto dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual bagi pelajar, khususnya pada materi geografi, hidrologi, dan teknik lingkungan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kesimpulan<\/p>\n<p>Apa yang disebut sebagai \u201csungai di atas sungai\u201d di Jatiroto sejatinya adalah saluran irigasi yang melintas di atas sungai alami. Fenomena ini bukan pelanggaran hukum alam, melainkan penerapan prinsip fisika dan teknik sipil yang telah lama dikenal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pemahaman yang tepat diharapkan dapat mengurangi misinformasi dan meningkatkan literasi sains di ruang publik.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>Food and Agriculture Organization (FAO), Irrigation Infrastructure and Aqueduct Systems<\/p>\n<p>Encyclopaedia Britannica, Aqueduct<\/p>\n<p>Kementerian PUPR RI, Bangunan Air dan Sistem Irigasi<\/p>\n<p>Buku Geografi SMA\/MA Kelas XI, Bab Hidrosfer. (Atz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lumajang \u2014 Fenomena yang dikenal publik sebagai \u201csungai di atas sungai\u201d di wilayah Jatiroto, Kabupaten&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":123369,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[47],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-123368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-lumajang"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/123368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=123368"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/123368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":123371,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/123368\/revisions\/123371"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/123369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=123368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=123368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=123368"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/majalahglobal.com\/api-json\/wp\/v2\/newstopic?post=123368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}