Majalahglobal.com, Mojokerto – Suasana di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Mojokerto, Rabu 11.15 WIB, terasa sejuk dan tenang. Berbeda dengan hiruk pikuk di luar gedung, di dalam ruang pertemuan justru mengalir diskusi serius tentang masa depan literasi dan ingatan kota.
Di hadapan jajaran Dinas, pengelola perpustakaan kontainer, dan para pustakawan, Dra. Hj. Enny Rahmawati, M.Si., Ketua Komisi I DPRD Kota Mojokerto, menyampaikan pesan penting. Pesan yang sederhana, tapi menohok.
“Perpustakaan itu adalah termasuk layanan dasar di bidang pendidikan yang mana posisinya meskipun berdiri sendiri tapi sangat membantu untuk anak-anak yang terkait dengan pendidikan,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
*Dana Bantuan Ada, Tapi Belum Menyentuh Kebutuhan Dasar*
Dalam pertemuan tersebut, Enny membuka data yang ia terima. Bantuan dari pusat memang ada. Namun bentuknya non-fisik dan penggunaannya terbatas.
“Makanya tadi saya minta dari pihak perpustakaan kira-kira anggaran apa yang kita perjuangkan. Karena dari pusat itu ada, dia kan nonfisik, cuman kan peruntukannya sudah tidak bisa untuk pengadaan dan sebagainya, hanya untuk kegiatan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menyebut, realisasi anggaran untuk kegiatan baru sekitar 45%. Sementara untuk hal yang paling mendasar, pengadaan buku, justru masih sangat minim.
“Namun memang perpustakaan ini minim agar anyare. Karena itu kami mendorong untuk mengajukan pihak terkait dengan kebutuhan-kebutuhan dasar apa yang dibutuhkan,” katanya.
“Anyare” bagi Enny artinya pembaruan. Sesuatu yang segar. Agar perpustakaan tidak hanya jadi tempat yang dikunjungi saat butuh, tapi jadi tempat yang dirindukan.
*5 Kontainer dan 2 Perpustakaan Kelurahan: Harus Hidup dan Berinovasi*
Kota Mojokerto saat ini memiliki 5 layanan perpustakaan kontainer dan 2 perpustakaan kelurahan. Letaknya strategis, dekat dengan permukiman. Tapi tantangan terbesarnya adalah membuat warga mau datang kembali.
“Ketika anda sampaikan, ajukan saja yang terkait dengan kebutuhannya. Termasuk pengadaan buku. Karena buku ini berjalan. Artinya berjalan itu dari kontainer-kontainer layanan yang ada di Kota Mojokerto tentunya harus ada upgrade, harus berputar. Tidak hanya berputar dari konten ini,” tegas Enny.
Ia membayangkan, bulan ini ada buku keterampilan, bulan depan ada novel, lalu ada komik edukasi, buku parenting, hingga bacaan ringan “jajanan sekolah” yang disukai anak-anak.
“Silahkan kalau ada 5 tempat kontainer dan 2 perpustakaan Kelurahan, otomatis merangsang mereka mau datang ke perpustakaan tentunya harus ada hal yang baru, ada inovasi,” ucapnya.
Enny juga mengapresiasi langkah Dinas yang kini sudah memiliki pustakawan ASN.
“Di perpustakaan ini sudah banyak inovasi dengan adanya pustakawan yang sudah ASN ini sangat membantu. Tinggal dorong anggarannya harus disesuaikan,” ujarnya.
Ia menekankan satu hal: buku baru tidak ada gunanya jika tidak dikenalkan.
“Anggaran buku ini akan bermanfaat ketika pustakawan bisa mempromosikan ketika masyarakat sudah banyak berminat dengan buku-buku yang mereka,” katanya.
*Arsip: Menjaga Bukti dan Martabat Pemerintahan*
Setelah perpustakaan, perhatian Enny beralih ke arsip. Ia mengakui belum sempat bertemu langsung dengan arsiparis, namun ia memahami betul betapa vitalnya fungsi arsip.
“Tentunya arsip itu meskipun dikatakan banyak yang mendengarkan itu kan hanya sebuah hasil dari apa yang dilakukan, itu sangat penting,” katanya.
Bagi Enny, arsip adalah penjaga sejarah. Ia harus bertahan puluhan tahun.
“Karena arsip itu paling tidak harus sekian puluh tahun masih ada. Kalau tempo hari itu sekitar 20 tahunan, ya sekarang ada arsip digital, arsip manual,” jelasnya.
Ia memberi contoh yang dekat dengan kehidupan warga.
“Dibutuhkan kapan pun. Bisa kan orang itu ijazah terbakar, mungkin bisa di arsip di sana. Nikahnya hilang masih ada sisanya. Laporan pertanggungjawaban sampai sekian dibutuhkan harus ada dia,” ujarnya.
Karena nilainya setinggi itu, Enny meminta agar arsip tidak lagi dipandang sebelah mata.
“Makanya tidak boleh siapapun memandang sebelah mata. Harus yang profesional. Makanya ada arsiparis, termasuk tempat untuk menyimpan arsip yang representatif sesuai dengan standarnya,” tegasnya.
Standar kearsipan modern, lanjutnya, bukan sekadar ruangan.
“Bagaimana ruangannya? Berapa suhunya? Bagaimana apa ini namanya? yang digunakan beda. Tidak bukan rak kayu. Yang tahan api, tahan air, tahan binatang-binatang,” terangnya.
Ia menyayangkan, hingga kini Kota Mojokerto belum memiliki depo arsip yang benar-benar representatif dan sesuai standar nasional.
*Komitmen Komisi I: Mengawal dari Hilir ke Hulu*
Menutup pertemuan yang berlangsung hangat di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ini, Enny menyampaikan komitmennya.
“Kami di Komisi I akan mendorong agar kebutuhan dasar perpustakaan dan kearsipan ini masuk dalam pembahasan anggaran. Bukan hanya untuk kegiatan, tapi untuk pengadaan buku, inovasi layanan, dan pembangunan sarana arsip yang layak,” pungkasnya.
“Jangan sampai kita bicara tentang pendidikan dan transparansi pemerintahan, tapi tempat kita menyimpan ilmu dan bukti kerjanya justru tidak kita urus,” tambahnya.
Di penghujung acara, para peserta tampak mengangguk. Di tengah sejuknya ruangan Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, ada harapan baru. Harapan bahwa buku-buku akan terus diperbarui, dan arsip-arsip akan terus dijaga.
Karena kota yang hebat bukan hanya kota yang membangun fisik. Tapi juga kota yang merawat pikiran dan ingatannya. (Jay/Adv)










