Majalahglobal.com, Mojokerto – Diisukan ada kelalaian, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto menegaskan tidak ada kelalaian petugas penjaga Dam Tinggarbuntut. Dalam waktu dekat, Bupati Mojokerto dan Kepala DPUPR bakal berkoordinasi dengan BBWS dan Kementerian untuk mengatasi permasalahan banjir.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Yuni Laili Faizah, S.T., M.E. menjelaskan, banjir di Desa Jumeneng murni dikarenakan ada sumbatan sampah di Dam Tinggarbuntut yang menyebabkan air tidak bisa mengalir dan membuat tanggul di Desa Jumeneng jebol.
“Kami memastikan tidak ada kelalaian dalam musibah banjir di Desa Jumeneng. Kalau tanggul itu banyak yang kritis memang iya. Ini sudah beberapa kali kami sampaikan ke BBWS. Tinggal bagaimana itu bisa diatasi,” ungkapnya, Kamis (2/4/2026) di ruangan kerjanya.
Pihaknya terus bakal menyuarakan bersama hal ini. Dalam waktu dekat, Bupati Mojokerto bakal berkoordinasi dengan BBWS dan Kementerian.
“Paling tidak semua usulan dan informasi itu sudah kami sampaikan. Nantinya semua usulan akan dipertimbangkan secara teknis dan dikaji oleh yang ahli sehingga jalan keluar yang dipilih itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara teknis,” terangnya.
Pihaknya tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil jalan keluar agar solusi yang diambil nanti benar-benar paripurna yang bisa dipertanggungjawabkan secara teknis.
“Kami yakin BBWS mempunyai tenaga-tenaga ahli untuk menangani itu. Kami yakin BBWS lebih memberikan perhatian setelah adanya musibah banjir di Desa Jumeneng. Apalagi dalam waktu dekat, Bupati Mojokerto secara langsung akan berkoordinasi dengan BBWS dan Kementerian,” paparnya.
Ditambahkannya, hal itu untuk jangka panjangnya. Kalau jangka pendeknya ya kemarin sudah dilakukan penanganan pasca bencana sehingga bencana banjir bisa terselesaikan untuk sementara.
“Saya kira terkait gotong royong membersihkan sampah di sungai sudah dilakukan secara berkala dan secara rutin oleh Pemerintah Desa. Hal itu terbukti dengan adanya Pemerintah Desa yang meminta bantuan alat berat untuk membersihkan sampah sebelum bencana banjir di Desa Jumeneng terjadi. Kalau dibersihkan secara manual memang tidak maksimal karena memang debit airnya cukup besar dan cukup membahayakan. Kecuali kalau dilakukan musim kemarau,” ucapnya.
Masih kata Yuni, ketika sungai sadar masih menggunakan tanggul tanah, kemudian belum dilakukan perbaikan tanggul yang secara permanen, ya ketika debit air itu besar situasi-situasi tanggul jebol itu akan terjadi di tanggul-tanggul yang kritis.
“Insha Allah seluruh tanggul kritis sudah dimitigasi dan dilakukan perbaikan. Cuma karena memang jumlahnya cukup banyak maka dilakukan secara bertahap sesuai dengan kewenangan kami dan terus berkoordinasi dengan BBWS,” jelasnya. (Jay/Adv)










