Halsel – Diduga kuat pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan. Provinsi Maluku Utara (Malut). Mendatangkan dokter laki-laki untuk menagani ibu hamil mendapat penolakan dari sejumlah pasien mengandung mengaku takut akan dosa ketika diperiksa dan dipegang oleh setiap pria yang bukan muhrimnya berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing.
Hal ini, dikeluhkan sejumlah pasien ibu hamil melakukan penolakan ketika melaksanakan pemeriksaan kandungan maupun yang melahirkan di RSUD Labuha Halmahera Selatan, saat ditangani oleh dokter pria meski nyawa mereka menjadi taruhan.
Menurut mereka, penolakan tersebut terutamanya ibu hamil yang beragama muslim (islam) mengingat akan dosa sesuai larangan agama dan kepercayaan masing-masing.
“Sebagaian besar kami ibu hamil yang periksa kandungan maupun melahirkan di rumah sakit ini, itu menolak dan memilih pulang meski nyawa taruhannya dari pada diperiksa dokter laki-laki. Apa lagi bagi kami yang beragam islam sangat dilarang agama,” Jelas sejumlah pasien kepada Media ini, (11/02/2026).
Para pasien juga menyayangkan kebijakan pemerintah daerah dibawah Bupati Halmahera Selatan, Hassan Ali Bassam Kasuba yang mendatangkan dokter pria.
“Kami sangat menyesalkan bupati saat ini, dokter digaji menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD adalah hak Rakyat Halmahera Selatan. dorang (mereka) sebatas pengelola anggaran jadi hak kami menolak kebijakan Bupati dan dinas kesehatan yang mendatangkan dokter laki-laki untuk tangani ibu hamil,” Tegasnya
Sejumlah pasien juga menyeroti dugaan darah yang di donorkan kepada pasien meski berbeda agama. Namun, tetap dipakai untuk pasien yang dilarang agamanya.
“Tak hanya dokter laki-laki, kami juga menduga ada darah yang di donor ke pasien itu berbeda agama, ini sangat dilarang keras sesuai kepercayaan kita terhadap agama masing-masing,” Ungkap pasien enggan namanya disebutkan satu persatu mengakhir.
Direktur RSUD Labuha, dr. Titin Andriyani. Saat dikonfirmasi terkait keluhan para pasien.
Ia membenarkan, “Spesialis kebidanan dan kandungan di RSUD labuha, ada 3 orang, 2 diantaranya perempuan dan 1 laki-laki,”kata Dirut Titin saat dikonfirmasi via chat WhatsAPP (11/02/2026).
Dirut Titin juga menegaskan bahwa “Perlu dipahami ya. Mencari dan mendatangkan spesialis ke labuha sangat sulit, jadi dokter bersedia datang ke labuha yang ada sekarang ini,” Tegasnya
Dirut menambahkan, pihaknya tidak dapat membeda-bedakan dokter yang bersedia di datangkan ke RSUD Labuha, Halsel.
“Kami belum bisa utukk memilih dan memilah spesialis yang datang, dan untuk dokter digaji oleh pemda,”cetusnya.
Sementara, terkait dugaan penggunaan darah yang dikeluhkan, belum sempat terkonfirmasi hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi langsung dari pihak RSUD Labuha.
(Tim/Red)
