Lumajang – Fenomena hewan yang menunjukkan perilaku tidak biasa menjelang bencana kembali menjadi sorotan setelah sejumlah laporan dan rekaman di berbagai daerah memperlihatkan respons alami hewan sebelum gempa atau tsunami terjadi. Para peneliti menyebut, meski belum bisa dijadikan indikator resmi, tanda-tanda ini berakar pada kemampuan sensorik hewan yang jauh lebih peka dibanding manusia.
Respons Alami yang Tak Terlihat Manusia
Penelitian yang dipublikasikan BioScience Journal (2013) mencatat bahwa hewan dapat merasakan perubahan lingkungan dalam tingkatan yang sangat halus—mulai dari getaran mikro (microtremor), ionisasi udara, hingga anomali medan elektromagnetik.
“Beberapa hewan memiliki reseptor biologis yang mampu menangkap sinyal alam yang sangat lemah, yang tidak disadari manusia sama sekali,” tulis tim peneliti dalam jurnal tersebut.
Sistem saraf hewan yang lebih responsif membuat mereka dapat bereaksi lebih cepat terhadap perubahan yang mengindikasikan potensi bencana.
Rekam Jejak di Lapangan: Dari Aceh Hingga Sichuan
Fenomena ini pernah diamati dalam sejumlah kejadian besar. Pada tsunami Aceh 2004, warga melaporkan banyak hewan liar dan ternak yang bergerak ke arah perbukitan beberapa jam sebelum gelombang datang.
Kejadian serupa juga terdokumentasi menjelang gempa Sichuan, Tiongkok, pada 2008. Ratusan katak dilaporkan bermigrasi massal beberapa hari sebelum gempa besar mengguncang wilayah itu. Laporan tersebut sempat menjadi perhatian para peneliti karena pola migrasinya tidak lazim.
Menurut US Geological Survey (USGS), sejumlah hewan seperti anjing, burung, ikan, hingga gajah dapat menunjukkan perilaku tidak biasa—gelisah, menghindari suatu area, atau berpindah tempat secara masif—menjelang terjadinya gempa bumi atau letusan gunung berapi.
Belum Jadi Alat Prediksi Resmi, Tapi Patut Diperhatikan
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa perilaku hewan tidak dapat dijadikan alat prediksi bencana yang definitif. Faktor cuaca, insting predator, atau gangguan lingkungan lain bisa memicu respons serupa. Namun, rangkaian laporan dari berbagai belahan dunia tetap menjadikan fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam.
Hingga kini, para peneliti terus mempelajari pola-pola ini dengan harapan dapat memadukan observasi perilaku hewan dengan teknologi modern dalam upaya mitigasi bencana.
Sumber:
BioScience Journal (2013), “Animal Behavior as an Indicator of Earthquakes”
US Geological Survey (USGS), laporan perilaku hewan sebelum gempa
National Geographic dan BBC Earth, laporan lapangan Aceh 2004 dan Sichuan 2008. (Atz)










