mahkota555

Bos Bimbel Hexagon Kabur ke Jakarta, Rifan Hanum Menilai Ada Pejabat yang Sengaja Menyembunyikan Pelaku Penipuan

Majalahglobal.com, Mojokerto – Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh pemilik bimbingan belajar (Bimbel) Hexagon. ownernya, WK bersama putrinya yang bernama NH yang beralamat di Dusun Gentong, Desa Talok, Dlanggu Mojokerto, dilaporkan telah merugikan sejumlah orang dengan total mencapai milyaran rupiah.
Pemilik Bimbel Hexagon Kabur ke Jakarta, Rifan Hanum Menilai Ada Pejabat yang Sengaja Menyembunyikan Pelaku Penipuan
Flyer Bimbel Hexagon

Modus yang digunakan adalah menjanjikan kepada para peserta bimbingan agar dapat lolos masuk program studi Kedokteran Universitas Pertahanan (Unhan). Para korban diminta membayar biaya yang cukup besar dengan iming-iming jaminan kelulusan. Namun, kenyataannya janji tersebut tidak pernah terbukti.

Pemilik Bimbel Hexagon Kabur ke Jakarta, Rifan Hanum Menilai Ada Pejabat yang Sengaja Menyembunyikan Pelaku Penipuan
Brosur Bimbel Hexagon

Salah satu korban yang enggan disebutkan namanya mengaku telah menyetorkan ratusan juta rupiah, namun hingga saat ini anaknya tidak berhasil diterima sesuai janji pihak penyelenggara.

 

“Kami merasa sangat dirugikan, bukan hanya secara materi, tapi juga secara psikologis karena harapan anak kami dipermainkan,” terangnya.

 

Jumlah korban diketahui lebih dari satu orang. Total kerugian diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Kasus ini memicu keresahan masyarakat, terutama para orang tua yang tengah berjuang memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.

 

Praktik bimbingan belajar semacam ini patut diwaspadai, terlebih ketika ada pihak yang menjanjikan kepastian kelulusan pada perguruan tinggi tertentu. Sesuai aturan, tidak ada satupun lembaga yang dapat menjamin peserta didik diterima di universitas bergengsi hanya dengan membayar sejumlah uang.

 

Kuasa hukum korban H. Rifan Hanum menjelaskan, jika uang tersebut telah ditagih beberapa kali namun tidak segera dikembalikan.

 

“Sudah beberapa kali kami ingatkan, Ibu dan anak ini untuk segera mengembalikan uang klien kami secara utuh. Sesuai perjanjian jika tidak diterima di Unhan RI maka uang 100% kembali utuh,” jelas pengacara yang terkenal dermawan ini.

 

Masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam memilih lembaga pendidikan nonformal. Pastikan lembaga bimbingan belajar memiliki izin resmi, rekam jejak yang jelas, serta tidak menawarkan janji yang melampaui kewenangan.

 

“Sesuai dengan surat kuasa yang kami terima dari klien kami, beberapa waktu lalu tim kami telah melacak keberadaan WK sampai ke Jakarta. Yang kabarnya sengaja “disembunyikan” oleh pejabat yang kami duga ikut menikmati hasil penipuan ini,” terang Pengacara yang terkenal dekat dengan masyarakat kecil ini.

 

Diterangkannya, Bimbingan Belajar (Bimbel) Hexagon berada di Jalan Surodinawan Grand Site 1, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

 

“Adapun kantor Bimbel Hexagon di Jalan Surodinawan Grand Site nomor 1 kini sudah tutup. Di pagar bekas kantor bimbel yang dikenal sebagai spesialisasi masuk STAN dan sekolah ikatan dinas itu justru terpasang pengumunan dikontrakkan atau dijual,” jelas Abah Hanum.

 

WK saat dikonfirmasi media ini menerangkan, di tahun 2023/2024 ASF minta tolong anak keduanya agar masuk SMA favorit.

 

“Saya minta harga Rp 110 juta dari latihan fisik sampai step by step tes kami pandu. Bahkan saya joki karena tes online. Tentunya ada campur tangan pihak ketiga. Alhamdulillah lolos. Perantara saat itu masih amanah,” ucapnya.

 

Selang setahun kemudian, ASF minta tolong anak pertamanya agar bisa lolos ke Kedokteran Unhan.

 

“Qadarullah uang titipan tidak nyampai pada jalur yang benar. Gagal. Saya tidak menduga kalau karakter orang yang saya titipi bisa berubah. Sudah dua tahun saya nguber. Doakan mereka beneran segera mengembalikan uang ASF. Biar saya bisa tenang menjalani hidup. Jika memang deadline september akhir terlewatkan, saya sudah siapkan kronologi. Rekening koran sudah siapkan. Termasuk juga nanti transaksi saya dengan ASF juga ada buktinya.

 

Ditambahkannya, apakah nanti anak kedua ASF bisa terpengaruh kondisinya ia juga tidak bisa prediksi.

 

“Insyaallah saya berniat dan ikhtiar mengembalikan uang Rp 125 juta sisa kekurangan pembayaran dari Rp 275 juta yang pernah dititipkan ASF ke saya,” paparnya.

 

Ditegaskannya, ia tidak diumpetin pejabat.

 

“Saya ngekos sendiri dengan anak-anak saya. Anak-anak terpaksa tidak sekolah karena teror dan ancaman orang tua . Hal ini saya lakukan agar psikis mereka gak tambah sakit. Mohon doa agar dalam waktu dekat saya bisa mengembalikan uang tersebut,” harapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dusun Gentong, Rumani menjelaskan, 3 Minggu ini tidak terlihat NH-nya.

 

“Kalau WK sudah setahun lebih tidak terlihat. Yang saya ketahui Kepala Desa Talok telah memberikan surat pernyataan bahwa WK dan NK sudah tidak berdomisili di Desa Talok. Saya tidak faham detailnya, yang jelas suami WK itu yang asli orang Desa Talok. Sementara WK asli orang Pacitan,” jelas Rumani, Selasa (23/9/2025).

 

Kepala Desa Talok, Khoirul Anwar menambahkan, terkait modus WK dan NH ia tidak faham.

 

“Tau-tau ada lebih dari 10 orang yang mencari WK dan NH ke Balai Desa Talok dan sudah dilaporkan ke berwenang. Yang berwenang juga sudah minta surat keterangan ke saya kalau WK dan NH sudah tidak berdomisili di Desa Talok,” ucap Khoirul Anwar, Selasa (23/9/2025).

 

Pihaknya berpesan agar masyarakat Desa Talok jangan sampai terkena penipuan.

 

“Semoga kejadian penipuan yang terjadi di Desa Talok ini menjadi yang terakhir. Penipuan jelas perbuatan melawan hukum dan merugikan orang,” tandas Khoirul Anwar. (Jay/Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *