HALSEL – Pengurus Daerah Gerakan Pemuda (PDGP) Persaudaraan Muslim Indonesia (PMI), Kabupaten Halmahera Selatan. Mendesak Gubernur Sherly Djuanda segera mencopot kepala dinas (Kadis) pendidikan Provinsi Maluku Utara. Abubakar Abdullah M. Si dari jabatannya.
Desakan pencopotan terhadap Kadis pedidikan Malut, disampaikan oleh ketua PD-GP PMI Halsel, Ady Hi. Adam, kepada sejumlah Wartawan pada senin (15/09/2025).
Ady menilai Kadis pendidikan Malut, telah gagal melaksanakan tugas dan amanat yang di embanyan untuk mengawasi pendidikan khusunya di Halmahera Selatan.
Pasalnya, kasus dugaan pelecehan seksual secar verbal yang terjadi di SMKN 1 Halsel, sejak tahun 2018 hingga 2025 ini, sudah menimbulkan belasan korban yang diduga dilakukan oleh pelaku merupakan Oknum Guru di sekolah tersebut. Namun, kasusnya sengaja ditutupinya.
Atas Kasus ini, Ady sangat mengecam tindakan tidak terpuji yang di duga dilakukan oleh oknum guru berinisial RR.
Untuk itu, dirinya mendesak Gubernur segera melakukan pencopotan terhadap Kadis Pendidikan Malut. Abubakar Abdullah M.Si dari jabatannya.
“Sesuai informasi yang beredar di beberapa Media Online atas pengakuan saksi yang merupakan Guru kelas, saya sangat mengecam tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh terduga pelaku oknum guru tersebut.
Sudah seharusnya Gubernur Sherly Djoanda secepatnya mencopot kepala Dinas Pendidikan Malut, Abubakar Abdullah M. Si dari jabatannya. Tegas Ady.
Senada disampaikan sekertaris PD-GP PARAMUSI Halsel, Hastomo Bakri S.H, sekaligus Praktisi Hukum itu mendesak agar pihak kepolisian Polda Maluku Utara, melalui Polres Halsel, segera mengusut tuntas kasus ini.
“Kepolisian Polda Malut, dan Polres Halsel, sebagai aparat penegak hukum dan pemerintah baik pemerintah Provinsi Malut, maupun Pemerintah Kab. Halsel, untuk mengusut tuntas kasus ini,” Tegas Hastomo
“Saya kira surat peringatan (SP-1) saja tidak cukup ya untuk membuat jera oknum guru tersebut. Kalau bisa terduga pelaku ini secepatnya diproses secara hukum agar para murid bisa kembali fokus belajar,” sambung dia.
Menurut Hastomo, dugaan kasus pelecehan seksual secara verbal yang terjadi di SMKN 1 Halsel, menjadi kenyataan pahit dalam dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi generasi muda Indonesia untuk belajar dan menyiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045 nanti.
“Saya rasa peristiwa ini menjadi pil pahit bagi kita ya, khususnya dunia pendidikan di Kab. Halsel. Sekolah inikan seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk belajar dan mengembangkan diri. Ini yang baru ketahuan di SMKN 1, kita tidak tahu barangkali peristiwa serupa pernah terjadi juga di sekolah-sekolah lain,” kata dia.
“Para pelajar ini kan seharusnya diberikan lingkungan dan pendidikan yang baik guna mempersiapkan diri menuj Indonesia Emas 2045,” sambung Hastomo
Hastomo juga meminta Pemerintah Kab. Halsel, dan sekolah-sekolah mulai berbenah diri untuk memperbaiki sistem pendidikan dan melakukan pembinaan secara berkala terhadap para guru.
Ia juga berharap peristiwa pelecehan seksual tidak terjadi lagi dalam dunia pendidikan.
“Dengan adanya peristiwa ini, saya harap dapat menjadi wake-up call bagi Pemkab, dan sekolah-sekolah untuk berbenah diri memperbaiki sistem pendidikan dan terus melakukan pembinaan secara berkala terhadap guru-guru,” ucap dia.
“Semoga saja ini menjadi peristiwa pelecehan seksual terakhir yang terjadi di Halmahera Selatan yang kita cintai ini,” pungkas Hastomo
Sebelumnya, dugaan tersebut muncul atas laporan melalui unggahan di Media Sosial, dan dibenarkan oleh salah satu guru di sekolah tersebut, yang enggan menyebutkan namanya kepada Media ini.pada Kamis (11/9/2025) lalu.
Ia menjelaskan perilaku guru RR termasuk tindakan seperti mengelitik jari-jarinya ke kelamin siswa perempuan meski tertutup rapat dengan celana color, sehingga sebagian para korban ada yang meninggal dunia dan berenti sekolah gegara mengalami troma berat.
“Kejadian awal di tahun 2018, itu perbuatan pelaku memegang-megang kemaluan siswa perempuan meski ada pake celana dalam (CD) tetapi dia (pelaku) paksakan jari-jarinya untuk oegang-pegang dan merabah-rabah tubuh para korban, tetapi pelaku dilindungi sedemikian rupa tanpa ada sanksi etik maupun di proses hukum.
Entah rahasia apa soal sekolah yang dipegang (diketahui) pelaku, sehingga Kepsek sebegitunya melindungi Pelaku.
Para orang tua korban juga tidak melaporkan ke pihak kepolisian karena malu dengan aib ketika buka suara, dan merasa tertekan dengan nasip anak-anaknya sebagian korban masih melanjutkan sekolah,” Ungkap sumber terpercaya.
Sumber yang sama dan salah satu rekan gurunya juga mengaku bahwa sebagian besar siswa yang berada di asrama SMKN 1 Halsel, menjadi korban dugaan kasus pencabulan berdasarkan hasil penelusuran dan permintaan keterangan oleh Dewan Guru terhadap para korban.
“Para siswa dan siswi telah di wawancara dan sebagian besar sudah mengakui. Termasuk anak anak perempuan kelas 2,” Kata sumber dinihari senin (15/09/2025).
Selain pencabulan secara fisik yang di alami para korba, juga pelecehan seksual melalui ajakan melakukan hubungan intim melalui pesan chat whatsAAP.
“Bannyak (juga siswa ) yang mengalami perlakuan pelecehan (seksual) dengan kata kata dari oknum guru berinisial (RR).
S (korban) itu di kelas 1 sudah berulang ulang paitua (RR) chat mesum ajak tidur, Dan bahkan paitua (RR) sampe pernah basedu pegang pegang dari belakang pose hubungan badan, barulah kasih dekat dia (RR) punya kemaluan ke korban,” Ungkapnya
Selain belasan siswa perempuan yang menjadi korban pencabulan. Sumber juga mengaku terdapat beberapa siswa pria yang mengalami seksual kasus HOMO sesama jenis diduga dilakukan terduga pelaku oknum guru yang berbeda di sekolah SMKN 1 Halsel.
“Banyak yang sudah bersaksi korban (N pria) juga mengakui, rata rata anak asrama sudah pernah dapa manakal (menjadi korban) dari terduga pelaku.
Kecuali yang dorang (mereka) punya kriman doi (uang) lancar bagi ekonominya bagus seperti (siswa VK). Kalau ekonominya parah (lemah) itu sudah menjadi korban oleh pelaku Homo. Terangnya.
Tambahnya, “Jadi Itu korban di dalam sekolah saja sudah mengakui, maka mau ditutupi apa lagi, dari dulu di tutupi,” Jelas sumber.
Menanggapi hal ini, Kepala sekolah SMK Negeri 1 Halsel Mufti S,Pd ditemui sejumlah Wartawan di lokasi pekerjaannya.
Mufti menegaskan pihaknya telah menindaklanjuti dan melakukan permintaan keterangan terhadap Dewan Guru maupun seluruh siswa. Namun, sebagian siswa masih memilih diam.
“Saya selaku kepala sekolah telah mengambil langkah dengan melakukan permintaan klarifikasi dari Dewan Guru, dan semua siswa di sekolah ini sudah dimintai keterangan tetapi sebagian siswa masih tertutup,” Ungkap Kepsek.
Kepsek juga menyatakan dugaan kasus ini masih terus dilakukan penyelidikan oleh pihaknya.
“Saat ini kami masih terus berupaya untuk permintaan keterangan terhadap siswa siswi, dan yang pastinya kami belum bisa sampaikan hasilnya seperti apa.
Dan sejauh ini belum ada dari pihak kepolisian untuk merespon atau mendatangi sekolah ini,” Tandanya.
(Jurnalis/Kandi)










