Kakek Terbaring Lemas di RSUD Labuha, Mengaku Didesak Dokter Rawat Jalan Berikut Penjelasan Direktur

Kakek Terbaring Lemas di RSUD Labuha, Mengaku Didesak Dokter Rawat Jalan Berikut Penjelasan Direktur
Kakek Terbaring Lemas di RSUD Labuha, Mengaku Didesak Dokter Rawat Jalan Berikut Penjelasan Direktur

Halmahera Selatan, majalahglobal.com – Salah satu Pasien seorang kake terbaring lemas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Provinsi Maluku Utara. Mengaku pusing dan sesak napas kembali dikeluhkan keluarganya.

Pasalnya, pasien berinisial MH asal warga Gane Barat Halsel berusia 70 tahun dirujuk ke RSUD Labuha oleh keluarganya pada tanggal 03 januari 2024 sekitar pukul 10:00 Wit, pagi.

MH Pada Media ini mengaku dirinya baru saja di rujuk dan terbaring lemas di RSUD Labuha namun didesak rawat jalan oleh dokter yang menanganinya.

Saya sakit jadi barusan dirujuk ke rumah sakit sini (RSUD-Labuha), saya merasa pusing dan sesesak napas tapi diminta dokter untuk rawat jalan. Kata kakek sembaring terlihat roman wajah dengan penuh kesedihan.

Berselang waktu, dibenarkan anak kandung kakek inisial RH bahwa ayahnya termasuk salah satu pasien yang didesak rawat jalan oleh Dokter.

Orang tua saya termasuk salah satu pasien didesak pulang oleh dokter yang merawatnya, tetapi saya marah dan pertahankan agar orang tua dengan kondisi masih lemas, rasa pusing dan sulit untuk bernapas tetap di rawat,” kata RH Kamis (04/01/2024) sekira pukul 01:50 Wit, malam.

Baca Juga :  Menangkan Prabowo Gibran Satu Putaran Dikandang Banteng, Tim Relawan Go Gibran Babel Ucapkan Terimakasih Kepada TKN 02

Lebih lanjut kata RH, Jika dirinya tidak mempertahankan ayahnya tetap dirawat di Instalasi Gawat Darurat maka hal yang sama di alami salah satu pasien lakalantas.

Apabila saya tidak pertahan orang tua saya tetap dirawat di rumah sakit maka hal yang sama dialami paien lakalantas,” ucapnya.

Terpisah, Direktur RSUD Labuha Ferdian Hidayat ketika di konfirmasi via pesan chats WhatsAAP mengatakan, memang kalau pasien yang paling tahu itu adalah dokter yang memeriksa, mereka kerja sesuai indikasi, misalnya kalau ada indikasi foto ronsen yang di foto itu tidak ada indiksai,” kata Ferdian.

Jika terdapat indikasi maka wajib pasien rawat inap, namun jika tidak adanya indikasi berarti pasien boleh pulang.

Baca Juga :  Sambang Toga Tomas Pasca Pemungutan Suara, Polres Mojokerto Intensifkan Cooling System

Bahkan banyak pasien yang di rawat karena permintaan pasien sendiri, padahal tidak ada indikasi rawat. Tidak semua pasien yang ke IGD itu harus dirawat, disini banyak perbedaan persepsi antara dokter dan keluarga pasien, saya sendiri juga sering mengalami hal itu.

Sering hanya miskomunikasi saja karena kalau dokter berbuat kesalahan penanganan harus tetap dipertanggungjawabkan di komite medik,” tegas Ferdian.

(Tim/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *