Kiai Asep dan Warga Dusun Bendorejo Tolak Pendirian Indomaret

Kiai Asep dan Warga Dusun Bendorejo Tolak Pendirian Indomaret
Perwakilan Warga Dusun Bendorejo saat meminta solusi kepada Romo Kiai Asep

Majalahglobal.com, Mojokerto – Berawal dari resahnya warga terkait berdirinya Indomaret di Dusun Bendorejo, Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto mulai menguat setelah berdirinya indomaret yang pambangunannya kurang lebih satu bulan selesai tanpa sepengetahuan warga.

Pembangunan Indomaret di Dusun Bendorejo Terus Dilakukan meskipun malam hari

Hal ini dikhawatirkan kesejahteraan warga bisa berdampak dari turunnya nilai pendapatan toko-toko sampai dengan pelaku-pelaku UKM di sekitar Kampus IKHAC yang semula tertata kesejahteraanya karena memiliki pendapatan dari UKM atau toko-toko karena keberadaan kampus, kini kian resah dengan adanya Indomaret secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan warga.

 

Hal itu terbukti saat ada beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemilik toko meminta tolong kepada Pendiri Ponpes Amanatul Ummah dan Kampus IKHAC, Romo Kiai Asep Saifuddin Chalim untuk mencari jalan keluar atas masalah ini.

 

Wakil Ketua BPD Bendungan Jati, Karno menjelaskan, ia sudah bertemu dengan pengusaha indomaret yang hendak mendirikan Indomaret di Dusun Bendorejo.

 

“Jadi saya saat itu hendak diberikan uang namun saya tolak karena belum ada persetujuan dengan masyarakat Dusun Bendorejo. Menurut saya, kepercayaan masyarakat jauh lebih mahal daripada uang,” terang Karno, Kamis (27/12/2022) di Guest House Instituse KH. Abdul Chalim (IKHAC).

 

Lebih lanjut dikatakannya, dalam hati kecilnya, ia ingin berpihak pada masyarakat. Makanya saya berusaha menemui pengusaha indomaret tersebut dan Alhamdulillah ketemu.

 

“Sebenarnya minimal 51% warga Dusun Bendorejo menandatangani surat pernyataan penolakan pendirian Indomaret di Dusun Bendorejo maka otomatis izinnya tidak bisa keluar. Mengingat launching Indomaret tersebut hari Kamis pagi, maka waktunya adalah besok Rabu untuk mengumpulkan warga Dusun Bendorejo, membahas dampak pendirian Indomaret dan melakukan penandatanganan penolakan,” jelas Karno.

 

Sementara itu, Pendiri Ponpes Amanatul Ummah sekaligus Pendiri IKHAC, Romo Kiai Asep Saifuddin Chalim mengungkapkan, ia sangat kecewa dengan Pak Dadang Kepala Desa Bendungan Jati. Mengapa hal ini bisa terjadi.

 

“Mengapa Pak Dadang tidak berkoordinasi dengan warga. Padahal sudah jelas warga menolak,” tegas Romo Kiai Asep yang dikenal Kiai Miliarder tapi Dermawan ini.

 

Menurut Romo Kiai Asep, pihaknya yang telah menciptakan keramaian di Dusun Bendorejo. Pihaknya tidak rela Indomaret berdiri di dekat Kampus IKHAC dan mencekik perekonomian masyarakat sekitar.

 

“Aturannya Indomaret itu tidak boleh berdiri kurang dari 500 meter dari pasar. Pengertian pasar itu adalah adanya pusat jual beli. Nah kan sudah jelas didepan kampus IKHAC dan samping kanan kirinya banyak yang membuka warung, toko maupun pedagang kaki lima. Jarak antara Indomaret dengan pusat jual beli tersebut hanya berjarak 50 meter. Besok saya akan mengundang seluruh masyarakat Dusun Bendorejo, Kepala Desa Bendungan Jati, Kapolsek Pacet, Danramil Pacet, Kepala Dinas Perizinan Kabupaten Mojokerto, Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto dan Bupati Mojokerto untuk membahas hal ini,” tandas Romo Kiai Asep Saifuddin Chalim.

 

Disisi lain, Kepala Bidang Hukum, Advokasi & HAM Harimau Mojokerto Nusantara (HMN), Angga Suprasetia, S.H. mengatakan, permasalahan ini merupakan masalah yang besar. Masuknya investor waralaba di wilayah yang tidak seharusnya menjadikan sebuah ancaman pemicu kerusuhan dan keramaian. Ada 2 unsur apabila nanti ketika ditempuh warga yakni ada hasil subjective maupun objective.

 

“Objectivenya kita bisa menutup indomaret dengan berbagai upaya serta pertimbangan yang tidak lain tujuanya adalah kembalinya hak-hak pendapatan warga dan nilai kesejahteraan masyarakat. Dan subjectivenya adalah nilai apa yang menjadi keuntungan provit bagi warga masyarakat sekitar Indomaret ketika ada Indomaret disitu,” ungkap Angga.

 

Lebih lanjut dikatakannya, apakah semua warga diberikan sarana pekerjaan atau apakah Indomaret dapat mengedepankan produk ukm lokal Desa Bendungan Jati. Seharusnya sebelum mendirikan usaha disitu diharapkan sudah dianulir terlebih dahulu karena dalam dunia usaha ada yang namanya analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman.

 

“Tentunya investor harus membaca selain kekuatan ber usaha dan membaca peluang juga harus dipikirkan kelemahan. Pengusaha juga harus memikirkan lemahnya pendapatan warga sekitar karena adanya Indomaret sehingga terampas kesejahteraanya. Dan hal apa yang menjadi ancaman kedepan. Apakah memicu keramaian hingga kerusuhan atau tidak. Saat ini Bendungan Jati damai dan asri karena mengedepankan UKM serta toko untu dijadikan mata pencarian tetap masyarakat. Saat ini mereka menjadi resah, itu merupakan sebuah ancaman bagi terampasnya kesejahteraan masyarakat yang semula hidup gemah ripah loh jinawi,” Pesan Angga. (Jay)

Exit mobile version