mahkota555

Bupati Mojokerto Pimpin Apel Siaga Karhutla di Poeteok Soeko

Bupati Mojokerto Pimpin Apel Siaga Karhutla di Poeteok Soeko
Penandatanganan MoU antara Pemkab Mojokerto bersama Perhutani Jawa Timur di Poetoek Soeko, Trawas, Kabupaten Mojokerto

Majalahglobal.com, Mojokerto – Apel Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Poetoek Soeko, Trawas, Kabupaten Mojokerto digelar, Selasa (20/9/2022).

 

Mitigasi bencana karhutla diupayakan dibendung dengan mendirikan pos pantau di sejumlah titik dengan keterjangkauan paling maksimal. Masyarakat bisa berperan aktif mencegah, melaporkan, meminimalisir terjadinya karhutla dengan menghubungi call center 112 dan kantor-kantor perhutani.

 

Kabupaten Mojokerto sendiri memiliki kawasan hutan seluas 25.021,40 Ha yang terdiri dari 10.181,10 Ha hutan konservasi yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Hutan Raya R. Soerjo. 10.656,70 Ha hutan produksi, 4.183,60 Ha hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Pasuruan, KPH Mojokerto, dan KPH Jombang.

 

Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengatakan bahwa kawasan hutan di Mojokerto terutama di wilayah bagian selatan merupakan kawasan pegunungan dan perbukitan. Kawasan ini memiliki populasi tanaman yang terdiri dari semak-semak serta tegakan hutan dengan dominasi pohon jenis pinus dan jenis rimba lainnya. Sehingga menjadikan Mojokerto merupakan salah satu kabupaten yang memiliki daerah rawan kebakaran.

 

“Oleh karena itu, diperlukan pemahaman terhadap teknis ataupun strategi dalam siaga kebakaran hutan dan lahan, baik dalam mitigasi maupun penanganannya secara langsung. Dimana dengan kondisi dataran yang tidak rata, untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan, sulit menggunakan peralatan modern,” jelas Ikfina.

 

Lebih lanjut dikatakannya, salah satu upaya mitigasi yang dilakukan, adalah dengan membuat pos pantau kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik rawan kebakaran dimana di pos ini ada petugas piket yang berjaga 24 jam.

 

“Kami bersinergi dalam melakukan mitigasi dan pencegahan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Mojokerto. Mitigasi dilakukan berupa pemetaan dan penempatan dari titik-titik pantau yang ini nanti jadi pusat dari pelaporan dari adanya kejadian kebakaran,” terang Ikfina kepada wartawan di Poetoek Soeko, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Selasa (20/9/2022).

 

Bupati Mojokerto menjelaskan bahwa titik-titik rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Mojokerto berada di 8 Kecamatan. Delapan titik ini merupakan wilayah dari Perum Perhutani.

 

“Berada di kecamatan-kecamatan yang diawasi oleh perhutani kita. Kalau di daerah selatan otomatis Kecamatan Pacet, Trawas, dan Gondang. Kalau di Utara Kabupaten Mojokerto di Kecamatan Kemlagi, Dawarblandong, dan Jetis. Kalau sebelah Barat ada sedikit di Kecamatan Trowulan, dan Jatirejo,” tutur Ikfina.

 

Bupati Mojokerto menjelaskan upaya mitigasi ini dengan mendirikan pos pantau. Pos pantau ini akan ditempatkan di sejumlah titik dengan radius tidak jauh dari titik-titik kecamatan yang rawan terjadi karhutla.

 

“Pos pantau ini diperkirakan akan menempati titik-titik dengan radius keterjangkauan untuk bisa betul-betul melakukan pemantauan secara maksimal dan semuanya ikut terlibat, jadi tidak hanya Perhutani saja yang punya wilayah tapi semua stakeholder,” papar Ikfina.

 

Bupati Mojokerto berharap masyarakat bisa ikut serta secara aktif dalam kegiatan mitigasi bencana. Terlebih lagi masyarakat bisa secara aktif berperan dan ikut terlibat untuk menjaga kelestarian hutan di Kabupaten Mojokerto.

 

“Kita berharap masyarakat kita khususnya yang area-area hutan untuk kegiatan ekonomi, untuk turut serta membantu bersama-sama untuk dilakukan pencegahan yang mengurangi resiko terjadinya kebakaran hutan, sekaligus masyarakat ikut terlibat secara aktif,” ujar Ikfina.

 

Sementara itu, Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Timur, Karuniawan Purwanto Sanjaya mengatakan masyarakat bisa berperan aktif melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan menghubungi kantor-kantor perhutani di Jawa Timur.

 

“Ada di setiap kantor-kantor perhutani di Jawa Timur di Asper dan Mantri. Kalau untuk KPH di Pak administratur. Saya kira SOP ini selalu berulang setiap tahun, musim kemarau, musim penghujan selalu ada potensi macam-macam bencana alam, banjir kalau yang sekarang Karhutla. Saya kira semua sinergitas ini sudah teruji,” tutur Kurniawan. (Jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *