Maulid (Memperingati Kelahiran) Nabi Muhammad adalah tradisi yang setiap tahunnya ummat sedunia selalu merayakannya. Hal ini wajar mengingat Rosulullah SAW mulai dari awal penciptaannya hingga selamanya merupakan Kekasih Allah. Beliau merupakan Nabi terakhir yang paling sempurna dan merupakan Rohmat paling agung bagi semesta alam.
Oleh sebab tersebut maka Beliau diperingati kelahirannya karena kesempurnaan penciptaannya dan kelahirannya yang begitu dinantikan oleh seluruh makhluq. Berbeda dengan manusia pada umumnya yang diperingati wafat atau kematiannya (Chaul) karena chusnul khotimah (akhir yang baik).
Berikut ini adalah penjelasan kenapa kita harus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, setidaknya ada 5 hal, yaitu:
1. Dalil Quran.
Dalam QS. Ibrohim Ayat 5 menyebutkan:
وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
Artinya: Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
Alquran menjelaskan untuk mengingat hari hari Allah. Beberapa darinya yaitu hari lahirnya Rosulullah dan ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan Islam dan menjadi Rohmatan Lil’Aalamin. Inilah landasan utama kenapa kita harus merayakan Maulid.
2. Dalil Hadits :
Diriwayatkan oleh Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu :
عَنْ اَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلِاثْنَيْنِ ؟ فَقاَلَ ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ اَوْ اٌنْزلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu , sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Senin, maka beliau menjawab: “Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus, atau hari mulai diturunkannya wahyu”. [HR Muslim].
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِي كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي مَوْلِدِي فَكَأَنَّمَا أَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَهَبٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ.
قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
Rasulullah Saw telah bersabda: ‘Barangsiapa memuliakan hari kelahiranku maka kelak akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat. Dan barangsiapa berinfaq dirham dalam peringatan maulid Nabi, maka sama dengan pahala infaq gunung emas di jalan Allah SWT’.
(Shohih Bukhori)
3. Nabi Muhammad SAW adalah makhluq pertama yang diciptakan oleh Allah SWT.
Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat sahabat Jabir RA bahwa perihal makhluk pertama yang diciptakan Allah, Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh, Allah menciptakan nur nabimu sebelum segala sesuatu.” Allah menjadikan nur itu beredar dengan kuasa Allah sesuai kehendak-Nya. Saat itu belum ada lauh, qalam, surga, neraka, malaikat, manusia, jin, bumi, langit, matahari, dan bulan.
Dan juga sebab penciptaan alam semesta ini adalah karena adanya Rosulullah SAW.
Dalam hadist Qudsi menyebutkan:
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْت الأَفْلَاك
Artinya : Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini. Lalu bagaimana mungkin kita tidak merayakan maulid, kalau adanya kita semua dan alam semesta ini adalah karena adanya beliau Nabi Muhammad SAW.
4. Dalil Kitab.
Dalam sejarah Islam, Abu Lahab merupakan orang yang paling membenci dengan kehadiran ajaran Rasulullah SAW.
Begitu bencinya, Abu Lahab beberapa kali merencanakan pembunuhan terhadap Nabi yang tidak lain keponakan sendiri.
Meski demikian Abu Lahab dapat keringanan siksa qubur oleh Allah tiap malam Senin, sebab bergembira dan senang sewaktu mendengar kelahiran Nabi Muhammad.
Bahkan ketika iNabi Muhammad lahir, Abu Lahab langsung memerdekakan hamba sahayanya (budak) yang bernama Tsuwaibatul Aslamiyyah.
Penjelasan ini ada dalam kitab Bidayah wan Nihayah karangan Ibnu Katsir, menyebutkan sahabat Nabi SAW yaitu Abas bin Abdul Mutholib bermimpi berjumpa dengan Abu Lahab yang sudah wafat.
Dalam mimpinya itu Abu Lahab menjelaskan bahwa ia mendapat siksa terus-menerus di dalam kubur.
Namun setiap hari Senin, ia mendapat keringanan siksa karena dulu ketika ia masih hidup, ia pernah memerdekakan seorang hamba sahaya karena rasa gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Abu Lahab yang sudah Nash Alquran mendapatkan siksa neraka dan membenci beliau, mendapatkan keringanan siksa sebab senang atas kelahiran Rosulullah.
5. Tafaa’ulan (Mengharap Kebaikan). Dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berharap akan muncul nya Muhammad Muhammad yg baru. Dalam arti akan lahir sosok yang berjiwa, bermoral serta berkarakter seperti Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
Oleh sebab itu kita sebagai umatnya yang mencintai Baginda Rasulullah SAW, pastinya wajib merayakan maulid Nabi. Hal ini selain sebagai bentuk syukur dan senang telah menjadi ummatnya, juga sebagai perwujudan cinta kita kepada Rosulullah SAW.
Semoga dengan memperingati Maulid Nabi dan mencontoh teladan beliau dan senantiasa bermanfaat untuk orang lain. Kita semuanya dapat menjadi Keluarga Allah dan Rasulullah, berkumpul selamanya dunia maupun akhiratnya. Amin. (Atz)
