Majalahglobal.com – Ketika sistem – sistem nilai dan norma konvesional diharu biru kontradiksi intern akibat aneka perbedaan tafsiran sehingga ideologi kadang tak berperan sebagai patokan yang meyakinkan. Dalam suasana konsumerisme yang parah dan gaya hidup snobistis, kalau pun ideologi masih tampak berharga, itu hanyalah sebagai parafernalia untuk dekorasi rumah atau gaya bicara. Ketidak mampuan berpikir secara abstrak dan ketidak pekaan terhadap pola hidup bangsa secara antropologi, sosiologi, dan psikologi dari zaman ke zaman, mengakibatkan kerancuan – kerancuan berpikir yang menyedihkan dan berbahaya.
Sistem nilai yang sangat berpengaruh di negara – negara dunia ketiga adalah primodialisme yang didasarkan pada nilai – nilai agama, ras, suku, dan entitas. Di Indonesia, ini mempunyai pengaruh terhadap struktur partai politik. Kebanyakan partai politik tidak dapat dibedakan secara vertikal menurut partai kader dan partai masa, tetapi dibedakan secara horisontal. Sementara itu lemahnya pelembagaan konflik dalam tubuh partai membuat partai gagal melaksanakan perannya secara efektif. Sebaliknya pluralitas jumlah partai politik tidak sebanding dengan kemampuan mereka dalam melakukan artikulasi dan agresi kepentingan.
Dalam hal orientasi terhadap kekuasaan. Dapat kita cermati pada masa sebelum dan sesudah reformasi nyaris tidak mengalami perubahan apapun. Menurut Kleden orientasi pertama dalam real politik adalah pada usaha memperebutkan kekuasaan dan bukan pada evektifitas penggunaan kekuasaan. Atau jika kita Merujuk pada apa yang disampaikan Bung Karno bahwa politik kita baru pada tahap machtsvorming dan belum pada tahap machtsaanwending. Orientasi pengejaran kekuasaan yang sangat kuat dalam partai politik telah membuat partai – partai politik era reformasi lebih bersifat pragmatis.
Lantas dalam sistem negara demokrasi, seharusnya partai politik biasanya melaksanakan fungsi sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi poltik, sebagai sarana rekrutmen politik, dan sebagai sarana pengatur konflik. Jika tidak maka bisa jadi seperti apa yang dikatakan oleh Huntington bahwa partisipasi tanpa organisasi akan melahirkan gerakan massal. Oleh karena itu partai politik berperan dalam menjembatani berbagai konflik kepentingan yang ada dalam masyarakat dan selanjutnya disalurkan dalam sistem politik. (Jay)










