Malang – Surat edaran Wali kota Malang ( Sutiaji ) pada hari senin 17 Januari 2022 terkait larangan penjualan daging anjing memicu kontraversi, sebagian warga yang mendukung surat keputusan tersebut, tapi tidak sediki yang mengkritik.
Salah satu kritikan datang dari Ketua GMNI cabang Malang ( Bung Yongki ). Yongki menilai kebijakan Wali Kota tersebut dapat merusak kebhinekaan di Kota Malang, dan dapat membunuh keberlangsungan hidup pedagang daging anjing di tengah pandemic covid 19.
Menurut Ketua GMNI Cabang Malang, harusnya Wali Kota dapat mengkaji kondisi objektif masyrakat Malang saat ini khususnya mereka yang bekerja sebagai pedagang daging Anjing, sehingga kebijakan yang dikeluarkan tidak merugikan secara sepihak, melainkan kebijakan harus menjamin keberlangsungan hidup para pedagang daging anjing.
“Menurut saya, kebijakan Wali Wokta ini bisa merusak kebinekaan dan dapat mematikan keberlangsungan hidup pedagang anjing di tengah covid 19. harusnya Wali Kota lebih mengkaji secara luas dan sesuai kondisi objektik masyarakat Kota Malang, kususnya mereka yang bekerja sebagai pedagang daging anjing. Sehingga kebijakan yang dikekuarkan tidak secara sepihak merugikan sekelompok orang, bahkan dapat mematikan keberlangsungan hidup para pedagang daging anjing, apa lagi merusak kebinekaan, ini menurut saya sesuatu yang harusnya tidak terjadi. ” Jelas Yongki”
Dirinya meminta Wali Kota agar mengkaji ulang surat edaran pelarangan daging anjing tersebut bersama tokoh – tokoh agama, masyarakat, akademis dan tokoh – tokoh pedagang. Sehingga kebijakan dapat selaras, adil dan merata bagi semua golongan masyarakat. (Jay)
