Malang – Teriring salam perjuangan, semoga menyertai setiap perjuangan kita. Tulisan sederhana ini saya angakat untuk merefleksikan HUT GSNI yang ke 63 tahun.
Kota Malang sebagai kota pendidikan adalah suatu tanggung jawab mulia yang perlu diperhatikan dan perlu dikawal secara serius. Sehingga pendidikan yang kita inginkan harus benar-benar bersumber pada kepribadian luhar bangsa dan cita – cita Pancasila. Sebab kita tentu tidak menginginka dunia pendidikan di Kota Malang ini menjadi wadah berkembngnya ideologi – ideologi ekstrimis yang bertujuan menggantikan Pancasila sebagai dasar Negara dan Ideologi bangsa, serta mengganggu tatanan persatuan yang telah lama digagas dan ditanmamkan oleh para pendiri bangsa.
Kemajukan dan warna perbedaan yang ada di Kota Malang, jangan sampai dijadikan alat komoditi dan alat untuk menjalankan politik Devide Et Impera bagi sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sejarah mencatat bahwa kita dikuasai dan dijajah selama 300 tahun atau tiga setengah abad lamanya karena politik adu domba yang dijalankan oleh bangsa – bangsa penjajah. Lantaran problem inilah yang disadari dan mulai digagas persatuan nasional oleh para pendiri bangsa, dan menjadi bukti konrit dari hasil perjuangan itu adalah kemenangan, kemerdekaan, dan freedom. Kita akhirnya menjadi satu bangsa yang merdeka pada tanggal 17 – Agustus – 1945, karena adanya persatuan yang dibangun oleh para pendiri bangsa.
Namun jika kita bicara mundur tentang sejarah bangsa kita ini, sesungguhnya kita telah mengalami kejayaan jauh sebelum datangnya para penjajah yaitu pada masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Sejarah ini telah kita ketahui bersama maka, jangan ada yang merasa kita adalah bangsa kecil, yang tidak pernah menghirup udara kejayaan “ini kekhawatiran yang salah” apalagi seenaknya menjadikan bangsa ini bola umpan untuk masuknya paham-paham radikal dan ekstrim.
Generasi yang kita miliki adalah salah satu aset yang yang sangat berharga yang harus kita lindungi bersama. Bukan saja tanah air yang kita punya tapi manusia yang kita punya harus juga dilindungi untuk menjamin keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap generasi harus ditanamkan ajara-ajaran Bung Karno sebagai landasan berjuang, karena ini menjadi modal bagi kita memiliki apa yang kita namakan dengan generasi emas.
Oleh sebab itu, pertanyaan mendasar bagi kita adalah seperti apa masa depen generasi emas yang kita harapkan, ataukah masih adakah generasi yang berjiwa nasionalisme dan berwatak Sukarnois pada 2045 tepat 100 tahun atau satu abad Indonesia ? Pertanyaan ini terus kita refleksikan, agar mau bergerak bersama dalam menyiapkan generasi emas dalam menyambut Indonesia emas diumurnya yang ke 100 tahun. Karenanya kita harus mampu tinggalkan ego kita, kita harus mampu menyampingkan hasrat keserakahan kita. Dan mau bersama – sama meneropong 100 tahun Indonesia emas, serta menyiapakan generasi emas lewat GSNI sebagai mesin kepemimpinan di masa mendatang. (Jay)
