Dalam hidup ada 2 tipe orang, yaitu orang yang dihargai pekerjaan dan yang menghargai pekerjaan itu adalah maqolah guru kami Syekh Achmad. Mari kita simak perbedaan dari 2 tipe orang tersebut :
Tipe yang pertama adalah orang yang dihargai pekerjaan, tipe ini adalah orang yang bekerja karena uang atau duniawi saja. Dalam bekerja mereka tidak kenal waktu, bahkan sampai meninggalkan kewajiban agamanya.
Bagi mereka yang terpenting hanya menuruti hawa nafsunya saja, bahkan terkadang sampai mengorbankan orang lain. Mereka secara tidak langsung telah menjadi budak dari pekerjaannya sendiri, sehingga jauh dari mendapatkan keberkahan rizqi.
Ironisnya mereka lalai kalau yang memberikan rizqi tersebut adalah Allah SWT, sehingga merasa sombong dan tidak mau mengeluarkan kewajibannya.
Salah satu contohnya adalah Qorun, yang kisahnya ada pada Surat Al-Qasash ayat 76 :
اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖوَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤاُ بِالْعُصْبَةِ اُولِى الْقُوَّةِ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ
Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.
(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”
Melihat Qorun yang sombong, akhirnya Allah menenggelamkan Qorun beserta hartanya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan apa pun yang bisa menolongnya dari azab Allah.
Kisah Qorun memberi kita pelajaran bahwa harta yang banyak belum tentu mampu membawa kita kepada keberkahan apabila tidak mensyukuri dan membayarkan zakat, justru bisa membawa kita kepada azab yang sangat pedih.
Sementara tipe kedua adalah orang yang menghargai pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja karena Allah dan selalu menunaikan kewajiban kepada TuhanNya.
Golongan ini selalu bekerja keras tetapi tetap meyaqini bahwa rizqi adalah pemberian dari Allah. Sehingga mereka dalam bekerja juga mengutamakan kewajiban sholat dan zakat, serta tidak pernah memikirkan hasil pekerjaannya.
Tipe seperti ini menganggap dunia adalah sarana untuk mendekat kepada Tuhan, sehingga banyak beramal sholih untuk menolong lembaga /sesamanya yang membutuhkan pertolongan. Sehingga dalam kehidupannya penuh keberkahan yang menghantarkannya pada ridho Allah SWT.
Mereka mampu mengatur waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat dan banyak bersyukur atas capaian hasil dari pekerjaannya. Golongan seperti inilah yang mampu menghargai pekerjaannya sebagai anugerah dari Allah.
Sehingga dalam bekerja mereka selalu bersungguh sungguh untuk mendapatkan hasil yang terbaik sebagai bentuk rasa syukurnya. Oleh sebab itu jangan pernah menyia nyiakan pekerjaan kita, agar pekerjaan kita penuh berkah dan bisa menghasilkan kemanfaatan untuk orang lain.
Penjelasan Hadits Nabi Muhammad SAW :
Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf-nya (5/258) meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda
مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلاَلاً اِسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ لَقِيَ اللهُ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ، وَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا مُكَاثِرًا بِهَا حَلاَلاً مُرَائِيًا لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهَ غَصْبَانُ .
Artinya:
Barang siapa mencari (kenikmatan) dunia secara halal untuk menjaga dari meminta minta, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk bederma kepada tetangganya. Maka pada hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama.
Sedangkan barang siapa mencari (kenikmatan) dunia secara halal untuk menumpuknya dan pamer kepada sesama. Maka pada hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya. (Atz)
