Ning Ita Resmikan Masjid Kampus Nurul Iman UNIMAS Kota Mojokerto

Ning Ita Resmikan Masjid Kampus Nurul Iman UNIMAS Kota Mojokerto
Ning Ita Resmikan Masjid Kampus Nurul Iman UNIMAS Kota Mojokerto

Majalahglobal.com, MOJOKERTO – Peresmian dan Penandatanganan Prasasti Masjid Kampus Nurul Iman Universitas Mayjen Sungkono (UNIMAS) Kota Mojokerto digelar pada hari Jumat (9/4/2021) di Jalan Irian Jaya Nomor 4 Perumahan Gatoel Kota Mojokerto.

Rektor Universitas Mayjend Sungkono Mojokerto Hery Setiawan, SH, M.Si mengatakan, pembangunan Masjid Kampus Nurul Iman Universitas Mayjen Sungkono ini dilaksanakan sejak September 2018 dan selesai pada Maret 2021 dengan total biaya pembangunan sebesar 1,8 Miliar.

“Masjid ini tidak hanya untuk keluarga kampus, tetapi masyarakat sekitar dan siapa saja umat muslim diperkenankan untuk memanfaatkan masjid ini sebagai tempat beribadah, artinya Masjid Nurul Iman ini tidak hanya sebagai sarana ritual peribadatan saja tetapi sekaligus sebagai sarana sosial sekaligus peningkatan ukhuwah antara keluarga kampus Universitas Mayjen Sungkono dengan masyarakat Kota Mojokerto,” ungkap Rektor Universitas Mayjend Sungkono Mojokerto Hery Setiawan.

Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau yang akrab disapa Ning Ita dalam sambutannya mengatakan Masjid yang diresmikan bertepatan dengan menjelang hadirnya bulan suci Romadhon sangatlah baik.

“Perlu diketahui, sampai saat ini kondisi bencana non alam ini masih berlangsung. Semoga dengan doa kita bersama, bencana non alam ini segera berakhir di Indonesia termasuk di Kota Mojokerto. Yang luar biasa, dengan diberlakukannya PPKM secara mikro di level RT terbukti sangat signifikan menekan angka penularan covid-19 di seluruh daerah di Pulau Jawa,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, dan ini tentu saja adalah kontribusi dari seluruh stakeholder sekaligus peran serta masyarakat secara aktif bahwa hal ini adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama, tidak hanya kami yang ada di pemerintah, tidak hanya kepolisian dan TNI tetapi termasuk seluruh stakeholder Universitas Mayjen Sungkono yang memiliki sekian ribu mahasiswa ini juga memiliki peran dan kontribusi untuk mensosialisasikan dan bersama-sama mengendalikan convid-19 di Mojokerto Raya.

“Dengan adanya bulan suci Romadhon yang sudah ibaratnya di depan pintu, maka pemerintah melalui Kementerian Agama memberikan surat edaran di mana surat edaran ini harus kita tindaklanjuti di daerah-daerah dalam bentuk surat edaran Walikota selaku pemerintah daerah di Kota Mojokerto. Ada beberapa hal di dalam surat edaran tersebut salah satunya yang perlu kami sampaikan di forum ini adalah terkait pelaksanaan kegiatan catatan selama bulan suci Ramadan belum ada perubahan bahwa masjid mushola dan seluruh tempat ibadah lainnya diperbolehkan melaksanakan kegiatan Tarawih dan ibadah lainnya namun dengan kapasitas maksimal 50% nya saja,” jelasnya.

“Artinya itu protokol kesehatan tetap harus ditegakkan begitupun ketika pelaksanaan Idul Fitri nanti akan berlaku. Hal yang sama bagi tempat-tempat ibadah yang memang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar cukup banyak sehingga kapasitas tempat ibadah tersebut tidak mampu menampung akibat adanya protokol kesehatan yang ditegakkan, maka diperkenankan menambah dengan tenda seperti ini,” terangnya.

Masih kata Ning Ita, terkait zakat fitrah di masjid juga begitu ya, tidak boleh ada kerumunan, begitupun pada saat pembagiannya bisa digunakan strategi dengan cara pengumpulan terbatas di Kelurahan atau akan lebih baik lagi jika diantar dari rumah ke rumah sehingga apa yang menjadi syariat dalam pelaksanaan peribadatan sepanjang bulan suci Ramadan tetap bisa kita lakukan namun penegakan protokol kesehatan juga tetap kita lakukan.

“Pendidikan karakter bagi generasi penerus bangsa ini sangat dibutuhkan. kalau saya dulu masih ada pelajaran PMP kemudian beralih nama tetapi esensinya sama menjadi PPKN, kemudian masih ada P4 namun saat ini sepertinya dengan adanya penghapusan itu di dalam kurikulum. Kita melihat anak-anak generasi setelah saya jauh mengalami degradasi dan mungkin termasuk salah satunya kenapa kemudian muncul intoleransi atau Islam yang tidak benar, karena pada hakikatnya Islam tidak pernah mengajarkan intoleransi namun mengatasnamakan islam tetapi mengajarkan sesuatu yang sifatnya radikalisme dan intoleransi,” tandasnya.

“Nah inilah saya sepakat untuk generasi penerus bangsa yang ada di Kota Mojokerto, kita bentengi kembali dengan adanya pemahaman dan kurikulum yang diajarkan sejak dini kepada anak-anak didik kita, kita memang membutuhkan kontribusi dari akademisi, kita membutuhkan sinergi apalagi di Kota Mojokerto yang kecil ini,” tutupnya. (jay/adv)

Exit mobile version