
Realisasi Nasionalisme dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan setelah merdeka banyak mengalami dinamika. Setelah menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka pada tahun 1945, kita belum mampu mandiri.
Kepercayaan diri sebagai bangsa yang satu dan besar kadang mengalami gejolak. Kita perlu sejenak mengevaluasi beberapa hal terkait kehidupan berbangsa dan Negara, jika dari masa kemerdekaan terlalu jauh, mari kita mencoba mengevaluasi dari masa reformasi saja.
Reformasi yang semula sempat menimbulkan euphoria demokrasi dan harapan kehidupan rakyat yang lebih baik, ternyata belum mampu memberikan pengaruh kehidupan berpolitik dan ekonomi yang lebih baik. Perubahan UUD atau yang kita kenal dengan amandemen sampai empat kali belum mampu menjadi patokan kehidupan kenegaraan yang lebih baik.
Ada kesan sebagain UU dan peraturan dabawahnya dari masa kemasa ada yang tidak konsisten dengan visi kebangsaan yaitu Pancasila. Bahkan buruknya lagi di era reformasi kehidupan riil masyarakat banyak dipengaruhi oleh sitem kapitalis, hingga sampai pada akhir – akhir ini pengaruh ideologi luar sempat mengguncangkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Masyarakat direkayasa untuk lebih mengutamakan kehidupan ekonomi yang impersonal dan sempit, dengan berbagai iklan yang canggih dalam merekontruksi kesadaran yang palsu.
Penjelasan singkat di atas mengambarkan bahwa ada banyak problem yang belum mampu dijabarkan secara kompleks dan belum diatasi sesuai prinsip keadilan. dari berbagai persoalan yang kita hadapi hari ini, membuktikan bahwsanya watak kolonial saat ini masih bertahan dalam kehidupan kemasyarakatan, jika mendapat angin baik atau umpan, watak kolonial itu menyala lagi.
Tulisan singkat ini memberi kesan bahwa kita bangsa Indonesia hari ini, belum mampu mengusir watak kolonial itu, toh ternyata tumbuh subur dalam pemikiran kita, sehingga yang terjadi kita gunakan kembali mengadu domba sesama anak bangsa, meneror berbagai kepentingan dengan menyebar hoax fitnah dan lain-lain.
Hal ini dapat meruntuhkan watak kita sebagai bangsa yang humanis yang memiliki ahklak baik dan spirtual yang kuat. Benar apa yang telah diramalkan Bung Karno seperti kata Beliau bahwa, perjuanganku mengusir penjajah tidak seberapa beratnya, tetapi perjuanganmu melawan bangsa sendiri akan terasa lebih berat.
Lalu apa yang harus kita lakukan ? Yang harus kita lakukan adalah kembali kepada nilai – nilai nasionalisme humanis yang di ajarkan para pendiri bangsa sebagai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tidak bisa terus menerus berjibaku pada persoalan internal yang mendorong kita saling sikut menyikut dengan sesama saudara ideologi.
Kita yang lahir sebagai kaum nasionalis ini adalah takdir kita, dengan segala konsekwensi perjuangan kita tidak bisa merubah cinta kita kepada Bung Karno dan bangsa ini.
Mari kita buka jendela nurani kita memandang di luar sana, bahwa ada sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab telah melakukan serangan yang TSM ingin mengobrak abkrik NKRI ini.
Ingin menggulingkan kita, lantaran hanya karena nafsu kekuasaan. Segala cara yang haram telah di halkan hari ini, manifesto agama yang harusnya menggerakan umat manusia pada kebenaran Sang Ilahi, toh nyatanya masih juga dipolitisasi.
Jangan diam bung dan sarinah, terus bergerak saling dukung mendukung, bauh membahu, sakit sama sama, senang sama sama. Bukankah yang kita tanamkan adalah prinsip gotong royong ini ?
Lalu di mana? Mari tunjukan kepada dunia bahwasa Nasionalime kita adalah Nasionalisme humanis, dan Nasionalisme kita tidak akan mati, melainkan terus tumbuh subur dalam sanubari kita. (Yongki)










