Mojokerto – Pro kontra terjadi sangat luar biasa saat berita Roso Spiritual Majapahit menggelar larung sesaji di Taman Brantas Indah, Kabupaten Mojokerto, Jumat (24/4/2020) dibagikan ke berbagai sosial media. Salah satunya yang menjadi sorotan Ki Purbo Diningrat selaku pembina dari pusat lembaga budaya Surakarta, Koordinator Wilayah Jawa timur dan Bali adalah tentang tuduhan larung sesaji malah mendatangkan bencana baru dan syirik.
Ki Purbo Diningrat mengatakan apabila dalam acara ritual sesaji untuk menetralisir wabah covid-19 sesuai adat dan budaya ada yang tidak berkenan dalam hati, kami memohon maaf sebesar-besarnya. Kegiatan Larung Sesaji ini juga mengundang para Tokoh Pemuka agama serta unsur Forkopimda Mojokerto Raya dan mereka semua hadir. Jadi kita mengedepankan kebersamaan dan saling menghargai atas keberagaman budaya dan agama di bumi Nusantara ini.
“Tentang kesyirikan, syirik itu dari hati manusia itu sendiri. Sebenarnya syirik itu rangkaian dari dengki dan kedzaliman manusia. Kami selaku pelestari adat dan budaya nusantara menekankan rasa welas asih untuk menjaga ketentraman alam jagat raya seisinya. Larung sesaji adalah adat dan bukan agama. Suatu doa ataupun suatu ritual untuk ketentraman adalah hak dan kewajiban manusia yang berbudi luhur. Secara adat dan budaya sesaji larungan yang ditujukan pada alam yang telah memberi penghidupan pada kita wajib kita syukuri. Indonesia itu berdasarkan pancasila, artinya kita diperkenankan memohon kepada yang maha kuasa lewat keyakinan dan ajaran masing-masing. Agamamu agamamu, agamaku agamaku,” jelas Ki Purbo, Minggu (26/4/2020).
Lebih lanjut, Ki Purbo Diningrat juga membaha tentang tuduhan ritual ini bakal mendatangkan bencana baru. Dilihatnya itu dari mana dan bersumber dari apa kalau kelompok adat dan budaya mendatangkan bencana baru. Kami selaku pelestari adat dan budaya nusantara bertujuan hanya 1 yaitu menjaga dan melestarikan adat dan budaya. Berkeyakinan kepada Tuhan yang maha kuasa untuk bersama sama secara ikhlas membersihkan bumi nusantara ini dari segala marabahaya dan kami pelaku adat bumi nusantara juga memohon kepada yang maha kuasa untuk bumi pertiwi terbebas dari bencana alam dan segala penyakit.
“Selama ini sudah banyak agama dan keyakinan mengadakan acara doa bersama pada yang maha kuasa untuk ketentraman jagat raya dan seisinya. Jadi disini tidak ada yang namanya syirik dan mendatangkan bencana baru dalam ritual larung sesaji yang kami lakukan kemarin Jumat. Apabila ada yang tidak berkenan dengan jawaban ini, saya selaku pembina dari pusat lembaga budaya Surakarta, Koordinator Wilayah Jawa timur dan Bali Ki Purbo Diningrat siap menerima serta memberikan suatu penjelasan kepada semuanya,” tutup Ki Purbo Diningrat.
Perlu diketahui, kegiatan larung sesaji ini di hadiri 5 pemuka agama dan mereka semua menyetujui kegiatan melestarikan adat yg bertujuan menolak bala pandemi corona (Covid-19). (Jayak)















